Tears of Heaven From Beirut to Jerusalem, Dr. Ang Swee Chai

Tears of Heaven From Beirut to Jerusalem, Dr. Ang Swee Chai

Judul/Title: Tears of Heaven From Beirut to Jerusalem
Penulis/Author: Dr. Ang Swee Chai
Penerbit/Publisher: Mizan
Halaman/Pages:  656
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Call
Status: Ada/Available

***
Mulanya, karena latar belakang religinya, dr. Ang Swee Chai adalah pendukung Israel. Di matanya, orang Palestina adalah teroris. Namun, pada 1982, Israel menyerang Beirut dengan brutal. Keyakinannya pun mulai goyah.
Ia putuskan untuk membuktikan sendiri dengan  dengan menjadi sukarelawan medis di Beirut. Di sana, di kamp pengungsian Palestina, setelah menjadi saksi pembantaianSabra-Shatila, akhirnya ia temukan jawaaban. Ia berbalik memihak rakyat Palestina, memihak keadilan dan kemanusiaan. Di tanah asing, ia pertaruhkan nyawanya untuk membela orang-orang yang tak punya hubungan darah maupun etnis dengan dirinya, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai dokter, sebagai manusia.
"Buku "From Beirut to Jerusalem" merupakan kesaksian dr. Swee tentang Pembantaian Sabra-Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon. Tak ada buku lain yang lebih otoritatif dan paling detil menceritakan pembantaian itu selain buku ini; termasuk bahkan di antara buku yang ditulis oleh orang-orang Arab maupun Muslim sendiri. Saya menangis ketika membaca buku ini untuk pertama kalinya. Ilmu kedokteran dan keterampilan sastra menjadikan kesaksian ini begitu mengiris."
[Farid Gaban | Pena Indonesia]
"Buku yang membuat orang AS marah karena yang berani. Tidak lama kemudian, penerbitan buku ini dihentikan peredarannya di AS."
[Media Indonesia]
"Pembaca akan merasakan kepedihan dan pergolakan yang dialami dr.Ang Swee. Membaca buku ini berarti merasakan dari dekat pembantaian manusia.
[Koran Tempo]
"Buku yang ditulis secara detail dan menerobos relung jiwa."
[Gatra]

Pembantaian Sabra-Shatilla merupakan salah satu tonggak paling tragis dalam konflik Israel-Arab; dan merupakan jejak Israel yang berlumuran darah dalam konflik yang berumur hampir satu abad ini. Agresi Israel di Lebanon dan gaza sekarang ini yang membunuh lebih 3300 orang, sebagian besar sipil, perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan infrastruktur sosial-ekonomi sebuah negeri, hanyalah pengulangan sejarah dari agresi dan teror sebelumnya. Agresi dan teror yang menemukan puncaknya antara lain di Sabra-Shatila ini hampir seperempat abad lalu atau di Qana sepuluh tahun lalu.

"Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan," kata dr.Swee. Dia memang memaksudkan bukunya sebagai upaya pencarian keadilan itu tidak hanya bagi korban Sabra-Shatila tapi bagi Palestina keseluruhan. Dia tak hanya berhenti di Beirut, tapi berlabuh juga ke Jerusalem, episentrum dari seluruh konflik yang menahun ini. Dr. Swee mengabdikan hampir seperempat abad hidupnya setelah Sabra-Shatila membela Palestina di forum internasional, termasuk di kalangan penganut agama Kristen yang dipeluknya, yang menganggap membela Israel tanpa-syarat merupakan bagian dari ajaran Injil, tanpa sadar bahwa sebagian orang Arab Palestina dan Lebanon adalah Kristen juga. Itu bukan perjuangan yang mudah terutama dalam lima tahun terakhir, di tengah genderang "perang melawan teror" yang ditabuh Presiden George Bush, pendukung utama Israel, yang menyebut Ariel Sharon, arsitek pembantaian Sabra-Shatila, justru sebagai "a man of peace". Itu juga perjuangan sulit di tengah kesan umum yang diciptakan oleh media massa internasional bahwa Palestina adalah teroris.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar