Masyarakat Konsumsi, Jean Baudrillard

Masyarakat Konsumsi, Jean Baudrillard

Judul/Title: Masyarakat Konsumsi
Penulis/Author: Jean Baudrillard
Penerbit/Publisher: Kreasi Wacana
Halaman/Pages:  284

Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: 75.000
Status: Ada/Available



***


Sekarang ini adalah era di mana orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya namun karena gaya (hidup), demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode lewat televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, ajeng kompetisi para calon bintang, gaya hidup selebriti, dsb.
Yang ditawarkan iklan bukanlah nilai guna suatu barang, tapi citra dan gaya bagi pemakainya Tidak penting apakah barang itu berguna atau tidak, diperlukan atau tidak oleh konsumen. Karena itu yang kita konsumsi adalah makna yang dilekatkan pada barang itu, sehigga kita tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan kita. Kita menjadi tak pernah terpuaskan. Kita lalu menjadi pemboros agung, mengonsumsi tanpa henti, rakus dan serakah. Konsumsi yang kita lakukan justru menghasilkan ketidakpuasan Kita menjadi teralienasi karena perilaku konsumsi kita. Pada gilirannya ini menghasilkan kesadaran palsu. Seakan-akan terpuaskan padahal kekurangan, seakan-akan makmur padahal miskin.
Kita tidak sedang hidup dalam masyarakat yang berkecukupan tapi Dalam masyarakat pertumbuhan. Yang namanya ideology pertumbuhan selalu Menghasilkan dua hal, kemakmuran dan kemiskinan Makmur bagi yang diuntungkan dan miskin bagi yang terpinggirkan. Kenyataannya, pertumbuhan adalah alat untuk membatasi ruang gerak orang-orang miskin. Karena itulah ideologi ini sengaja dilanggarkan untuk menjaga sistem. Pertumbuhan adalah fungsi kemiskinan, kata Baudrillard. Pertentangan yang ada di dalamnya mengarah kepada kemiskinan psikologis dan kefakiran sistematis karena “kebutuhan” akan selalu melampaui produksi barang.
Karena permasalahannya terletak pada hubungan sosial atau dalam logika sosial (ingat, kita bukan hanya mengonsumsi barang, namun juga jasa manusia dan hubungan antar manusia), ini tidak akan dapat dipecahkan oleh peningkatan produksi, dengan inovasi kekuatan produksi, atau dengan apa yang biasanya kita pandang sebagai peningkatan daya beli Satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah ini terletak pada perubahan dalam hubungan sosial dan dalam logika sosial. Kita memerlukan suatu logika sosial yang membawa bersamanya banyak pertukaran simbolik, bukan nilai tukar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar