Manifesto Khalifatullah, Achdiat K. Mihardja

Manifesto Khalifatullah, Achdiat K. Mihardja

Judul/Title:Manifesto Khalifatullah
Penulis/Author: Achdiat K. Mihardja
Penerbit/Publisher: Arasy Mizan
Edisi/Edition:2005
Halaman/Pages:
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Call
Status: Ada/Available

***

Hasan, tokoh utama dalam novel ”Atheis” (1949) karya Achdiat K Mihardja memang telah meninggal di akhir cerita. Namun, pemikiran sang pengarang yang menulis novel tersebut tak ikut mati. Pengarang, bahkan setelah berpetualang dengan berbagai ilmu pengetahuan dan kini menetap di Australia, malahan mulai menyadari peran hidup yang harus ”diemban” manusia. Tidak ingin mati seperti Hasan, Achdiat lalu menulis novelet atau kisah panjang religius yang berjudul ”Manifesto Khalifatullah”.

Jika dalam Atheis Achdiat menghadapkan faham komunisme dengan Islam dan si tokoh utama, Hasan berada dalam tebing skeptisisme, kali ini Achdiat menghadapkan sekularisme dengan Islam. Tidak mau terjebak dalam ”jurang skeptisisme” yang pernah dipeluk Hasan, dengan lantang sastrawan yang hidup di lima zaman ini seperti mau meneguhkan: untuk apa Tuhan menciptakan manusia di muka bumi? Jawaban yang digemakan pengarang kelahiran Garut, 6 Maret 1911, ini sangat tegas, ”Manusia adalah wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi, bukan wakil setan.”

Tak salah jika tulisan ini adalah khotbah Achdiat di usia senja soal keimanan. Sebab, dalam sejarah kesusastraan Indonesia bisa dikatakan Aki digolongkan sastrawan yang berpihak pada ateisme. Seperti menyadari akan kemurtadan Hasan, kini ia ingin mengumandangkan ke”insyaf”an Hasan dan menyeru supaya manusia kembali pada kesadaran religius.

Novel ini berkisah tentang pengembaraan filosofis tokoh ”aku” secara dialektika imajinatif dengan sejumlah penggagas aliran pemikiran dan ideologi besar dunia, seperti Siddharta, Adam Smith, Bacon, Karl Marx, Engels, Lenin, dan Nietzsche. Dari perkenalan dengan para penggagas ideologi-ideologi dunia itu, tokoh ”aku” sadar bahwa komunisme (diwakili Marx, Engel, dan Lenin) telah meniadakan eksistensi Tuhan dan menganggap bahwa agama tak lebih dari candu.

Lebih ekstrem, tokoh aku menceritakan Nietzsche dengan memegang suluh di tangan di siang bolong dengan lantang berkata telah membunuh Tuhan. Jelas saja, tokoh ”aku” terbengong-bengong. Sedangkan ideologi kapitalis-sekularisme (yang diwakili Adam Smith di bidang ekonomi dan Bacon di bidang pengetahuan) telah ”menyepelekan” Tuhan. Toh, kalau Tuhan itu dianggap ada, keberadaannya tidak bermakna dan tak berarti apa-apa. Dari kedua ideologi itu, tokoh ”aku” menyadari jika itu cerminan dari pemikiran manusia sebagai wakil setan dengan otak yang keblinger.

Tokoh ”aku” pun lalu dihinggapi keresahan teologis seusai berkenalan dengan mereka. Bersamaan dengan itu, tokoh ”aku” kedatangan kawan-kawannya, Chairil Anwar, ST Alisyahbana, Sanusi Pane, dan Sutan Syahrir. Tidak sempat mengguncang teologi yang dianut, dari pertemuan dengan kawan sejawat itu justru merasa belum terpuaskan. Alih-alih bisa sedikit tenteram, tokoh ”aku” malah dihantui keresahan karena ditikam kecewa yang amat berat. Sebab, tidak satu pun dari teman sejawat itu yang bisa mengisi kehausan spiritualnya. Chairil Anwar, misalnya, penyair heroik yang dikenal berani dengan takjub malah mengagumi Nietzsche. ST Alisyahbana mengagung- agungkan Barat.

Pemikiran yang dianut kedua teman sejawat itu pada intinya cenderung ke arah komunisme dan kapitalisme. Pendek kata, tetap meneguhkan individualisme, semangat egoisme dan egosentrisme, sehingga menjauhkan manusia dari Tuhan. Saat didera kebimbangan itulah, tokoh ”aku” bertemu dengan Abah Arifin, seorang kiai dusun dan pemimpin pesantren Alhamdulillah.

Rupanya, pertemuan tokoh ”aku” dengan kiai nyentrik itu memuaskan rasa dahaganya dari kebusukan mental dan watak setan yang selama ini menggerogoti sukma dan nuraninya. Sebab, dari kiai nyentrik itu, tokoh ”aku” kembali tersadarkan, terlebih setelah si kiai memberikan khotbah di Lembah Padasuka, tentang peran yang harus dipikul manusia—lewat kisah segi tiga (Tuhan, Manusia, dan Iblis) yang menandaskan tugas manusia di dunia adalah sebagai wakil Tuhan, bukan wakil setan.


Kisah segi tiga antara Tuhan, manusia, dan iblis bukanlah sebuah kisah yang asing bagi kaum agamawan. Dalam Islam, misalnya, kisah klasik yang terjadi sebelum Adam ”turun” ke bumi itu telah disebutkan di dalam kitab suci Al Quran dan telah jadi lambang akar perseteruan antara yang baik dan jahat hingga detik ini. Alkisah, seusai Adam diciptakan Tuhan, iblis diperintahkan untuk sujud kepada Adam. Alih-alih iblis menuruti perintah bersujud, melainkan membantah. Alasan penolakan itu sebab di mata iblis, Adam tak lebih terhormat. Selain ia diciptakan lebih dahulu, di mata Iblis, dia yang diciptakan dari api justru lebih mulia daripada Adam. Lantas, untuk apa dia harus bersujud?

Pembangkangan itulah yang menjadikan Iblis dikutuk. Namun, kutukan itu diberikan tenggat waktu sehingga ia selalu berupaya menggagalkan manusia untuk menjadi wakil Tuhan di muka bumi ini.

Kisah langit itulah yang telah dikembangkan dengan mengambil inti kisah, lantas mempertentangkan antara Islam dan ideologi-ideologi yang mewakili sifat setan. Dari pertentangan itu, pengarang angkatan 45 ini ”menyeru” agar manusia kembali pada kesadaran kebertuhanan seperti peran yang diperintahkan Tuhan sejak Adam diciptakan.

Terbitnya buku ini tergolong luar biasa. Sebab, di ujung usia yang sudah renta dan banyak kawan sejawatnya yang sudah tiada, Achdiat masih tegar dan menghasilkan sebuah karya. Karena itu, novelet ini adalah novel ketiga Achdiat, setelah Atheis (1949) dan Debu Cinta Bertebaran (1973). Sophocles dan Bernard Shaw juga masih menulis drama- dramanya meski usia keduanya sudah lebih dari 90 tahun.

Fakta sejarah itu rupanya memberi semangat bagi Achdiat. Karena itu, di usianya itu ia masih tetap ingin berkarya. Bahkan, dia kini sedang menulis autobiografi. Selain itu, seperti yang diceritakan dalam buku ini, Voltaire dan Sartre pun, yang selama ini dikenal sebagai tokoh ateis terkemuka, di akhir hayatnya ternyata ”menyadari” bahwa alam semesta ini ada yang mencipta, yang tak lain adalah Tuhan.

Vitalitas Achdiat itu bisa jadi didorong oleh semangat yang menggebu untuk memberikan khotbah di usia senjanya. Maka, dengan ini, Achdiat yang sejak tahun 1961 hijrah ke Canberra (Australia) dan menjadi pengajar di Australian National University (ANU) ingin menggemakan ke- insyafan Hasan di masa lalu.

Tampaknya, baik novel Atheis maupun buku ini tak bisa ditepis adalah satu perjalanan hidup Achdiat dalam ”pengembaraan spiritual”. Juga, seperti Jacques Park—penyair asal Belanda—yang tidak mau mati dilingkupi selubung kerahasiaan akan dirinya, tampaknya Achdiat tak ingin persepsi tentang dirinya setelah menerbitkan Atheis disalahartikan. Karena itu, lewat buku ini tampaknya suatu rahasia akan dibuka bahwa kini ia bukan lagi Hasan di masa lalu.

Dibandingkan dengan Atheis, memang novel ini berada jauh di bawahnya. Sebab, buku ini tak cukup punya keunikan dari aspek estetika dan struktur kebahasaan, kecuali penekanan akan pesan yang ingin disampaikan pada pembaca. Karena itu, tak sedikit sastrawan yang melontarkan kritik akan nilai sastrawi yang dikesampingkan Achdiat dalam buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar