Atheis, Achdiat K. Mihardja

Atheis, Achdiat K. Mihardja

Judul/Title: Atheis
Penulis/Author: Achdiat K. Mihardja
Penerbit/Publisher: Balai Pustaka
Edisi/Edition: 1992
Halaman/Pages: 
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Rp. 55.000
Call No.: 
Status: Ada/Available

***


Roman Atheis mengetengahkan perkembangan yang khas bagi masyarakat Indonesia sejak permulaan abad kedua puluh, yakni pergeseran gaya hidup tradisional ke gaya hidup modern. Pergeseran itu membawa serta perselisihan dan bentrokan antara paham-paham lama dan baru, terjadi khususnya di lapangan sosial budaya dan politik.

Perkembangan di dalam masyarakat tidak luput meninggalkan perngaruh pada pengalaman batin manusia. Keresahan batin di tengah-tengah bergeloranya pertentangan paham di zaman penjajahan Belanda dan Jepang menjadi pokok perhatian roman ini.


Setidaknya sejak 4000 tahun silam, Tuhan merupakan tema penting dalam sejarah kesadaran manusia, dalam upaya menemukan Tuhan yang benar-benar bermakna dan relevan bagi hidup mereka. Mengisahkan pergumulan batin anak manusia tentang Tuhan, novel Atheis memberikan aspek-aspek menantang tema ini, yang cukup peka hampir sepanjang sejarah kesadaran manusia, termasuk di Indonesia.
-Jamal D. Rahman, pemimpin redaksi Majalah Sastra Horison


Keberhasilan Atheis terletak pada hampir semua unsurnya yang begitu menonjol. Latar alam yang terjadi di daerah Pasundan-dengan berbagai tradisi keagamaannya- sangat mendukung perkembangan watak tokoh utamanya, Hasan. Ceritanya justru diawali dengan akhir riwayat hidup tokoh utamanya, menyerupai cerita berbingkai, hanya dalam struktur yang agak berbeda. Unsur lain yang tak kalah pentingnya adalah penggunaan sekaligus tiga penceritaan. Wajarlah sampai sekarang novel ini masih terus diulas dan dibicarakan.
-Maman S Mahayana, kritikus sastra, dosen sastra FIB UI


Atheis adalah salah satu monumen sastra Indonesia.Novel ini mewakili gejolak akibat munculnya golongan "frijdenker' di kalangan kaum muda yang berpendidikan Barat pada awal abad XX. Maka tak pelak, pendekatan iman mendapat tantangan berat. Sebagai monumen, Atheis tak lekang oleh zaman.
-Ahmad Tohari, Penulis buku Ronggeng Dukuh Paruk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar